Jul
11
Filed Under (Sketsa Tokoh) by aguswahyudi on 11-07-2009
rusdi-kecil-11

Rusdi Bahalwan/rofik/radar sby 2009

Tiba-tiba kedua kelopak mata Rusdy Bahalwan berair. Dia tak kuasa menahan derasnya bulir-bulir air mata yang tumpah. Rusdy merasakan amat nostalgik tatkala istrinya, Ramadhani, mengingatkan soal masa emasnya menjadi pelatih favorit mengalahkan M. Basri, beberapa tahun silam.
*Agus Wahyudi
Pagi itu,  Rusdy memang bukan Rusdy seperti tiga puluh tahun lalu. Dia dulu pemain langganan tim nasional yang punya tendangan yang keras dan terarah. Atau piawai meliuk-liukkan tubuhnya mengecoh lawan.

Rusdy yang kini juga bukan Rusdy sepuluh tahun silam yang dikenal sebagai pelatih bertangan dingin. Yang mampu memberikan ketenangan dan bimbingan kepada pemainnya hingga meraih kemenangan.

Rusdy sekarang harus berjalan teratih-tatih. Tangan dan kakinya teramat masih sulit digerakkan. Ini menyusul gangguan keseimbangan yang dialaminya, sekitar tahun 2005.

“Sebenarnya dokter masih ragu. Hasil analisa sementara dari dokter, dia mengalami gangguan keseimbangan sehingga kakinya sulit dipakai berjalan,” ujar Ramadhani, istrinya yang juga seorang dokter ini saat saya temui di kediamannya di kawasan Rungkut Mejoyo Selatan I/38, Surabaya.

Di teras rumahnya, Ramadhani sangat telaten menemani Rusdy. Dia selalu meladeni segala keperluan Rusdy. Mulai dari makan sampai alat-alat yang dibutuhkan untuk melatih otot kaki dan tangannya.

Meski begitu, ada satu yang tak hilang dalam diri Rusdy. Dia tetap sosok yang gigih dan penuh semangat. Sampai sekarang, Rusdy masih aktif memantau perkembangan, khususnya sepak bola di Tanah Air. Terbukti, hari-harinya yang banyak dihabiskan di rumah, digunakan untuk membaca dan menulis. Dia juga masih getol mengutak-atik gambar berisi strategi sepak bola yang dipelajarinya dari pengalaman dan referensi dari luar negeri. Dua kali sepekan, dia juga masih melatih di klub Assyabaab di Lapangan Bumimoro, Surabaya. Ini belum ditambah hobinya menulis khotbah, meski ia sekarang untuk sementara tak lagi naik mimbar

Pun, ketika menuturkan pengalamannya masa bocah, ingatan Rusdy masih cukup kuat. Rusdy ingat ketika umur 9 tahun diajak ayahnya yang sudah almarhum, Ali Bahalwan menonton sepak bola. Ali Bahalwan adalah pemain sepak bola dan pernah memperkuat Persebaya di posisi kiri luar. “Kebetulan rumah saya di Jalan Salak 28, dekat stadion Gelora 10 Nopember. Jadi, tiap ada pertandingan saya selalu nonton. Kadang bersama ayah, kadang harus lompat pagar atau ikut orang,” aku dia mengenang.

Dari seringnya menonton, Rusdy makin jatuh cinta dengan sepak bola. Apalagi dia berobsesi untuk menjadi Yacob Sihasale yang sangat dikenal kala itu. “Saya ingin seperti dia (Yacob Sihasale), bisa nendang dengan salto,” ucapnya.

Umur 14 tahun, Rusdy ikut klub Assyabaab amatir. Itu berlangsung mulai 1968 sampai berhenti jadi pemain bola 1979, yakni setahun setelah ikut mengantarkan Persebaya tampil sebagai juara kompetisi Divisi Utama.

Selama jadi pemain di klub yang diasuh tokoh tiga zaman Moh. Barmen ini, sukses awalnya diraih saat Assyabaab meraih tahta kompetisi kelas utama Persebaya, 1970.

Itu kemudian berlanjut ketika Rusdy dipanggil memperkuat Persebaya. Menjadi pemain Persebaya, Rusdy mengaku harus bekerja ekstra keras. Sebab persaingannya sangat ketat. Posisi Rusdy yang semula jadi libero, pun akhirnya harus rela ditinggalkan. Ini karena Rusdy kalah bersaing dengan Samidi. Rusdy akhirnya digeser di bek kiri. Di posisi bek kiri ini, Rusdy masih bersaing dengan Hendra Lesmana.

Untuk melewati persaingan itu, Rusdy tak main-main. Dia berlatih serius dan terukur, baik di klub maupun latihan sendiri. Rusdy pun berlatih 3-4 jam per hari.

Hasilnya, bersama klub kebanggaan Arek-Arek Suroboyo ini, ia ikut menikmati gelar juara, yakni juara I Kompetisi Divisi Utama Perserikatan 1977-1978. Karier Rusdy makin menanjak. Di era 1970-1980-an, nama Rusdy meroket bak meteor. Dia telah jadi simbol Persebaya. Perannya diakui sangat besar. Dia selalu jadi pemain inti sekaligus dipercaya sebagai kapten Persebaya. Berkat kegigigihan dan kemampuannya, Rusdy akhirnya dipanggil masuk skuad tim nasional PSSI, 1972-1975. Bersama tim nasional itu, Rusdy berhasil menjadi juara Piala Sukan di Singapura, 1972.

“Saya selalu menjadi langganan di Persebaya dengan posisi bek kiri. Di tim nasional juga menempati bek kiri. Namun keberhasilan Persebaya merebut mahkota juara, bagi saya merupakan pengalaman yang berkesan,” aku pria yang dikenal low profile ini.

“Kenapa saya katakan demikian? Karena Persebaya merebut Piala Presiden ketiga kalinya setelah 25 tahun menunggu, yakni sejak tahun 1953. Kebetulan pula saat itu saya dipercaya sebagai kapten kesebelasan,” imbuh dia.

Selama di tim nasional, Rusdy banyak mendapat pengalaman berharga. Boleh dibilang, hampir semua negara Asia penah ia kunjungi, juga Australia. Pengalaman itu membuatnya makin percaya diri.

***

RUSDY dan sejumlah pemain seperti Subodro, Abdul Kadir, Djoko Malis, I Wayan Diana, dan Purwono, telah menjadikan Persebaya sebagai tim yang disegani. Seluruh tim sepak bola di Tanah Air akan keder bila tahu akan bertanding dengan Persebaya.

Rusdy juga begitu istiqamah dengan Persebaya. Saat liga profesional diperkenalkan tahun 1980-an, Rusdy tetap memilih di Persebaya. Sementara teman-temannya banyak yang pindah ke Galatama. Padahal, menjadi pemain Galatama jelas lebih menjanjikan secara materi.

Baginya, uang bukan segala-galanya, meski semua orang membutuhkan. “Bagi saya prestasi itulah sangat utama,” tegasnya seraya menuturkan kalau dari prestasi itu Rusdy justru banyak mendapatkan berkah. Sebab banyak kalangan yang memberikan apresiasi positif hingga rupiah pun bisa ia kantongi.

Bukti komitmen Rusdy ini dibuktikan tatkala ia kali pertama menjadi pelatih. Klub pertama yang ditanganinya adalah PSIL Lumajang, 1985. Bayaran yang diterima saat itu hanya Rp 200 ribu. Ini tentu sangat kecil bagi ukuran pelatih sekelas Rusdy. Sebab, setahun sebelumnya, Rusdy adalah satu dari tiga pelatih terbaik yang memperoleh sertifikat S-1 dari PSSI. Dua lainnya adalah Sarman Panggabean dan Edy Sofyan.

“Saat melatih di Lumajang saya diajak dokter Syamsul Arifin (dokter tim Persebaya) yang waktu itu dinas di Lumajang. Saya melatih dua kali seminggu, pulang pergi naik bus,” bebernya seraya menuturkan di PSIL dia hanya melatih selama tiga bulan.
Tahun berikutnya, ia menangani tim mahasiswa Untag Surabaya. Saat menangani Untag itu, Rusdy berhasil menorehkan prestasi gemilang menjadi juara Antar-Perguruan Tinggi, 1986.

Debut Rusdy sebagai pelatih mulai terlihat saat ia diberi kepercayaan oleh Komda PSSI Jatim menangani tim PON XII, 1986. Dia tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Rusdy ingin menunjukkan kalau prestasi yang diraihnya sebagai tiga besar pelatih terbaik di Tanah Air, bukan isapan jempol. Sebagai pelatih baru, prestasi yang diraihnya tergolong cukup bagus. Kala itu, pertama kali tim PON Jatim meraih medali perak. Sebelumnya, prestasi terbaik Jatim paling banter medali perunggu.

Sejak itu, nama Rusdy Bahalwan mulai ramai dibicarakan. Sejumlah kalangan pecinta dan pengamat bola percaya Rusdy adalah pelatih bertangan dingin dan berkarakter. Ia bisa menjadi oase di tengah kepenatan para pemainnya.

Berbagai pujian itu tak membuat Rusdy besar kepala. “Saya belum apa-apa. Saya masih banyak kekurangan dan butuh belajar,” katanya merendah.

Kepercayaan publik yang makin besar membuat nama Rusdy terus berkibar. Hingga ia dipercaya menangani Persebaya, yang pernah membesarkan namanya. Saat menangani Persebaya ini, Rusdy berhasil membawa suasana baru yang menggairahkan. Dia berhasil meramu total football yang menjadi ciri khas sepakbola modern. Dengan motto, the best defense is offense, pertahanan terbaik adalah menyerang, Rusdy berhasil membawa Persebaya sebagai tim yang ditakuti lawan.

Pola permainan ala Rusdy ini seolah menjadi trade mark Persebaya. Yaitu, formasi 1 - 3 - 5 - 2 dengan serangan dari sayap. Juga upaya menjaga ball possession melalui umpan pendek silang.

Yang melegakan, hasil polesan Rusdy ini mampu mengobati dahaga publik sepak bola Surabaya. Persebaya meraih gelar juara Piala Utama, sebuah turnamen bergengsi yang mempertandingkan empat wakil tim-tim Perserikatan dan Galatama (profesional), 1990.

Prestasi terbaik Rusdy kembali diukir setelah ia menukangi tim PON XIV, 1996. Dibantu Subodro, Rusdy berhasil meraih prestasi gemilang merebut medali emas sepak bola. Raihan ini sangat bersejarah mengingat setengah abad mengikuti PON, baru kali pertama Jawa Timur berhasil meraih emas dari cabang sepak bola.

Keberhasilan ini membuat Rusdy terus meningkatkan kualitas diri. Ia tak berpangku tangan untuk melakukan instrospeksi dan retrospeksi. Di Liga Indonesia III, Rusdy yang menangani Persebaya, menunjukkan kelasnya sebagai pelatih bertangan dingin. Dia berhasil membawa Persebaya juara musim kompetisi 1997-1998.

Hasil ini membuat PSSI menunjuk dia sebagai pelatih timnas yang kemudian menjadi semifinalis Piala Tiger 1998. Selama menjadi pelatih, dia mendapatkan kesempatan ke Italia, nonton pertandingan World Cup 1990. Juga menimba ilmu sepak bola di Brasil, 1991. “Ya, boleh dibilang dari sepak bola semuanya telah saya dapatkan,” aku Rusdy.

***

RUSDY BAHALWAN lahir di Surabaya, 7 Juni 1947 dari pasangan Ali Bahalwan dan Rugaiyah Baadillah. Rusdy menamatkan sekolah di SMAN 6, tahun 1966. Kemudian ia diterima di Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga (Unair), 1967. Saat di Unair ini, waktu Rusdy banyak dihabiskan untuk sepak bola. Ia sampai bolak-balik Surabaya-Jakarta untuk mengikuti TC tim nasional. Pada akhirnya Rusdy memilih keluar dari Unair dan menekuni karirnya di sepak bola.

Lama meninggalkan bangku kuliah ternyata membuat Rusdy bosan. Tahun 1989, Rusdy melanjutkan kuliah S-1 di Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Tujuh Belas Agustus (Untag) Surabaya. Bahkan, dia lantas juga menamatkan S-2 di Untag, 2003.

Rusdy menikahi gadis Medan bernama Ramadhani. Perkenalannya dengan Ramadhani juga tak bisa dilepaskan dari sepak bola. Ketika itu, Rusdy yang menjadi pemain Persebaya ikut turnamen Piala Marah Halim, 1976. Dia kenal Anwar Lutan, pelatih PSMS yang pernah melatih Persebaya di era Yacob Sihasale. Salah satu anak Anwar, Ainan Jaya, adalah teman Rusdy semasa membela klub Assyabaab.

Ketika ikut kompetisi Piala Marah Halim, pemain Persebaya diundang ke rumah Anwar Lutan. Ketemulah pandangan mata Rusdy dengan Ramadhani, putri Anwar Lutan yang juga adik Ainan Jaya. Gayung bersambut, jalinan kasih Rusdy dan Ramadhani makin bersemi. Mereka kemudian menikah 2 Desember 1979. “Ketika itu, saya masih kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara,” aku Ramadhani.

Rusdy lalu memboyong istrinya pindah ke Surabaya. Rusdy selain sebagai pelatih Persebaya juga pegawai negeri sipil (PNS) di Pemda Kotamadya Surabaya (sekarang Pemerintah Kota Surabaya). Di Surabaya, istrinya melanjutkan kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga sampai diangkat menjadi dosen.

Dari perkawinannya itu, mereka dikaruniai tiga orang anak, Irfan Bahalwan, Khaira Imandina Bahalwan, dan Ikhwannurdin Bahalwan. Ketiga anaknya itu kini telah beranjak dewasa. Irfan dan Khaira kini menempuh studi di ITS dan Unesa. Sedang Ikhwannurdin menjadi siswa SMAN 16 Surabaya.

Anak-anaknya itu agaknya sampai sekarang tak ada yang tertarik menjadi pemain sepak bola. Irfan misalnya, malah sempat berlatih gulat. Karena ibunya khawatir cedera, ia kini beralih bermain basket.

Rusdy lahir di kalangan lingkungan yang taat beragama. Ayahnya, Ali Bahalwan, sangat ketat mendidik anak-anaknya agar tekun menjalankan ibadah. “Mungkin karena itu, sampai sekarang terbawa dalam kehidupan saya,” ucap olahragawan yang sempat beberapa tahun menjadi takmir masjid di kampungnya itu.

Pendidikan agama yang diajarkan dari orang tuanya telah membawa Rusdy menjadi pelatih sekaligus ustad. Meski bergelut di bidang olah raga, Rusdy selalu memberikan suntikan ruhani bagi para pemain binaannya. “Sengaja saya selipkan pesan-pesan moral agar persepakbolaan kita makin maju, serta jauh dari erosi yang merusak,” ucap mantan aktivis Indonesian Moslem Student Association (IMSA) Jatim ini.

Pola pembinaan bernapas agama itu diwujudkan Rusdy dalam tindakan nyata. Salah satunya, bila subuh menjelang, Rusdy tak segan mengetuk pintu kamar-kamar pemainnya yang beragama Islam untuk melaksanakan shalat berjamaah. Dari situ kemudian dilanjutkan dengan kultum (kuliah tujuh menit). Kebersamaan ini akhirnya membawa Rusdy sebagai sosok yang bersahaja di mata pemainnya. Seperti diakui Mustaqim, mantan pemain tim nasional yang sempat jadi asisten Rusdy. Mustaqim selalu meniru dengan mempraktikkan kegiatan shalat subuh berjamaah itu sampai ia menjadi pelatih.

Rusdy yakin, banyak orang yang mampu berdakwah. Cuma mereka belum memiliki keberanian untuk menyampaikan. Padahal tugas seperti ini bukan hal yang istimewa, sebab telah dilakukan mayoritas umat Islam.

Lantaran prinsip agama yang begitu melekat di benaknya, Rusdy sangat menentang adanya pemainan kotor, seperti mengatur skor untuk judi yang pernah sangat merajalela dalam persepakbolaan di Tanah Air.

Kata Rusdy, seorang pemain yang sengaja melepas bola agar timnya kalah, itu berarti telah berbuat dosa. Pelatih yang sengaja menginstruksikan pemainnya mencederai pemain bintang lawan, juga telah berbuat dosa. Begitu juga manajer yang mengatur skor akhir pertandingan, serta wasit yang karena sesuatu hal lantas memihak pada salah satu tim, termasuk perbuatan dosa.

“Karena itu, semua yang telah saya sebutkan di atas harus kita tinggalkan mana kala sepak bola kita mau maju, dan tidak terancam bubar,” tutur dia.

Soal ketidakberesan dalam sepak bola ini, Rusdy tergolong paling getol bersikap. Pernah suatu ketika, ada seorang pemain binaannya yang kecanduan obat-obatan terlarang. Pemain ini sangat terkenal. Dia juga menjadi langganan tim nasional. Rusdy tahu itu semua. Beberapa kali ia peringatkan, namun kelakuannya tak berubah. Akhirnya, dia pun segera mengambil keputusan memecat pemain itu, meski publik akhirnya mencerca dia lantaran sang pemain dianggap pemain hebat.

“Bagi saya moral itu penting. Dan lagi, saya memecat pemain itu karena ingin menyelamatkan dia. Kalau sampai dia tak dipecat karena ketahuan menyimpang, kariernya akan habis,” ucap Rusdy kukuh yang merahasiakan nama pemain itu.

Ketika menangani Persebaya, Mitra Surabaya dan Assyabaab Salim Group (ASGS), Rusdy melihat dan menilai dasar pemahaman pemain terhadap agama, khusus Islam. Itu dianggap sangat penting. Dia yakin, pemain yang kadar imannya kuat, tak mudah goyah semisal diiming-imingi suap.

Di mata Rusdy, kunci sukses membina pemain harus menerapkan tiga hal, yakni menjauhi tangan-tangan kotor, mentalnya baik, dan istiqamah.

Selain itu, dalam bertanding Rusdy selalu menanamkan prinsip tak mudah menyerah. Biar waktu seditik pun tersisa, peluang itu masih terbuka. “ Kalau kita ingin maju, berusahalah semaksimal mungkin mengikuti instruksi pelatih. Jangan pernah berfikir untuk kalah dalam pertandingan, walaupun lawan yang dihadapi mempunyai kemampuan lebih baik,” saran dia.

Tak berlebihan kiranya, Rusdy telah meletakkan dasar bermain bola yang brilian. Kalau saya boleh menyebut, Rusdy mencoba memboyong sepak bola profetik, yang mencitrakan moral kenabian. Ini dianggapnya juga berdakwah dengan lebih mengedepankan etos dan kepedulian terhadap kemanusiaan. Bukan semata-mata mementingkan materialisme dan keglamoran dunia selebritis sepak bola.

Sepak bola profetik yang diusung Rusdy adalah yang mencerminkan wajah humanis yang diwujudkan lewat pembaruan sosial dan budaya yang santun dan menjadi setiap tingkah laku sebagai ibadah. Dalam ranah profestik, antara yang benar dan salah terdapat garis tegas, bukan abu-abu.

***

TANGGAL 1 Februari 1997, Pukul 04.00, telepon di rumah Rusdy berdering. Saat itu bulan suci Ramadan. Ramadhani bergegas mengangkat gagang telepon itu. Terdengar suara pria yang agak berat mengucapkan salam, “Assalamualaikum”.

Setelah dijawab salam, pria itu menyebutkan namanya, Basofi Soedirman, yang waktu itu gubernur Jawa Timur.

Ramadhani cukup kaget menerima telepon sepagi itu. Apalagi dari orang nomor satu di Jawa Timur. “Ada kabar apa, Pak,” ujar Ramadhani setengah bertanya kepada Basofi.

Ternyata, Pak Bas-begitu ia karib disapa— sangat terkesan dengan tulisan Renungan Ramadan Rusdy di sebuah harian surat kabar terbitan Surabaya. Dalam tulisan bertajuk “Suporter ‘bonek’ bertobatlah” itu, Rusdy mengajak semua insan bola melakukan instrospeksi diri.

“…saya juga bermunajat kepada Yang Mahakuasa agar atmosfir sepak bola di Tanah Air yang akhir-akhir ini begitu mencemaskan serta meresahkan masyarakat itu, berubah menjadi semakin baik. Kita sama-sama tahu, beberapa kasus perbuatan oknum yang tidak bertanggung jawab telah mencemari lingkup sepak bola kita. Lewat tulisan ini, bertepatan dengan bulan suci Ramadan yang penuh rahmat, berkah dan ampunan, saya coba mengimbau penonton, pemain dan mereka yang sehari-hari terlibat dengan kegiatan sepak bola agar segera sadar dari kekeliruan serta kesalahan yang telah dilakukannya.”

Basofi tertegun membaca ulasan Rusdy yang begitu sejuk tersebut. Sampai akhirnya, Basofi mengaku kalau ia punya pengalaman yang sebelumnya tak pernah ia ungkapkan. Yakni, saat tim sepak bola Jatim di PON XIV, 1996 yang bertanding di final melawan Irian Jaya. Saat itu, Basofi tegang sekali menyaksikan pertandingan tersebut. “Yang saya rasakan saat itu juga dirasakan warga Jatim yang menyaksikan pertandingan yang sangat menegangkan itu,” tutur Basofi seperti ditirukan Ramadhani.

Tapi, Basofi akhirnya bisa tenang manakala beberapa kali kamera televisi menyorot wajah Rusdy. Basofi melihat rona Rusdy begitu tenang menghadapi pertandingan itu. Batin yang semula berdebar-debar yang dirasakan Basofi akhirnya luluh. Bak tersiram es, Basofi pun merasakan kesejukan untuk tetap tenang dalam menghadapi situasi apa pun. “Ketika saya menyaksikan wajah Pak Rusdy tenang seperti itu, saya jadi ikut tenang. Dan alhamdulillah, kita bisa meraih emas PON yang sangat bersejarah itu,” aku Basofi seperti diceritakan Ramadhani.

Saat mendengarkan cerita ini, jantung Rusdy berdegup kencang. Hingga napasnya terlihat lebih cepat naik-turun. Rusdy menangis sesunggukan. Dia, lagi-lagi, merasakan nostalgia yang begitu mendalam. Begitu besar perhatian seorang pejabat tinggi sampai pagi-pagi menelepon ingat kenangan pada saat menegangkan.

Ramadhani yang melihat Rusdy menangis berusaha menghiburnya. “Sudahlah Pa, ini semua karena masih banyak orang yang menghargai Papa, ya,” ujarnya. Rusdy pun mengusap air matanya dan berusaha menenangkan diri dengan merapikan duduknya.

Rusdy memang bukan orang meledak-ledak. Sebagai pemain dia selalu membawakan diri tampil apa adanya. Dia bukan tipe pemain yang emosional, yang membabi buta menebas kaki dan mencederai lawan. Sepak bola bagi Rusdy adalah sportivitas. Kalah dan menang adalah hal biasa. Sepak bola juga bagian dari seni, yang harus tampil indah dan memesona.

Begitu pula saat Rusdy menjadi pelatih. Komentar-komentarnya di media massa juga sangat sejuk. Tidak meledak-ledak atau bombastis. Dia juga menjauhkan diri dari perdebatan yang tak berujung pangkal.

Kepribadian Rusdy itu sangat melekat di hati Ramadhani. Selama puluhan tahun mendampingi Rusdy, ia hapal betul tipe suaminya itu. Selain ketenangan, Rusdy bukan orang yang suka memaksa. Anak-anaknya dibiarkan berkembang dengan dunianya, meski ia selalu memberikan ‘pagar’ agar tidak melenceng dari ajaran agama.

Selain itu, masih kata Ramadhani, Rusdy tak pernah larut dengan masalah yang dihadapi di luar. Beberapa kali ia dikritik di media massa, Rusdy tenang-tenang saja. Dia pun tak pernah membawa masalah di luar ke rumah. “Andaikata dihitung sehari dapat sepuluh masalah, dia hanya membawa pulang dua masalah saja. Itu pun dia tak terlalu serius membahasnya,” aku Ramdhani yang mengaku getol mengamati perkembangan sepak bola baik di Indonesia maupun manca negara.

Dari pergulatan panjang ini, Rusdy juga sempat tergoda terjun ke dunia politik. Rusdy Bahalwan memutuskan bergabung dengan Partai Amanat Nasional (PAN) dan mencalonkan diri sebagai caleg DPRD Surabaya, 2003. Rusdy, masuk menjadi caleg PAN dari unsur tokoh masyarakat.

Rusdy menyatakan, awalnya dia hanya ingin mengaktualisasikan peran dan pemikirannya dalam bentuk lain kepada masyarakat. Yang paling menarik perhatiannya saat itu ternyata adalah dunia politik. Sebab, dunia politik memberi pintu yang sangat besar untuk secara langsung bisa mengambil peran yang berhubungan dengan perbaikan kondisi masyarakat secara global.

Mungkin masih belum takdir ilahi, Rusdy akhinya belum diberi kesempatan menjadi anggota legislatif. Namun, kariernya dalam dunia sepak bola tak pernah dilupakan. Terutama untuk publik Surabaya. Rusdy telah menapaki titian menjadi legenda Persebaya.(*)


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?


Comments

   Marwan on 3 Agustus, 2009 at 13:54 #

Rusdi Bahalwan adalah satu dari sekian aset nasional yang pantas mendapat penghargaan!!!!


   wglsuyxjqc on 21 Agustus, 2009 at 00:46 #

5aIlLd kdnodzszvpua, [url=http://vvnibpssrwpo.com/]vvnibpssrwpo[/url], [link=http://kgzstyvgylad.com/]kgzstyvgylad[/link], http://vpaqjtuctfni.com/


   Puspa Dewi on 3 September, 2009 at 02:45 #

Saya turut prihatin dan sangat syok.. krn saya baru tahu kondisi dari mas rusdy sewaktu membaca ini…
I know him well … tolong sampaikan salam hormat saya kepada istri mas rusdy… ingin rasanya saya menjenguk … tapi karena jarak, jadi saya hanya dapat mendo’akan semoga mas rusdy mampu melalui cobaan yang berat ini, begitu juga semoga istri beserta anak2nya tabah menghadapinya, yakinlah bahwa dibalik semua cobaan ini pasti ada hikmah dan berkah bagi semuanya…
I miss you mas and I’ll never forget you, krn terlalu banyak kenangan yang pernah kita alami dimasa lalu be strong and be Taft dear …. mudah2an do’a saya dan semua yang mencintai mas akan di ijabah oleh ALLAH SWT … Amin Ya Rabbalallamin….


   aguswahyudi on 3 September, 2009 at 16:49 #

Baik bu Puspa. Insya Allah kalau ketemu Bung Rusdy dan keluarganya akan saya sampaikan.


   triawan marsudi on 28 September, 2009 at 15:02 #

ass, salam buat mas rusdi, sy dulu sempat main di assyabaab bersama almarhum salim barmen , mas rusdi patut dijadikan tauladan smg beliau sll diberikan istiqamah dlm kehidupannya


   aguswahyudi on 30 September, 2009 at 21:14 #

Insy mas triawan, klo bertemu bung rusdy saya sampaikan salam anda


   Dimas on 20 Januari, 2010 at 18:34 #

saya teman SD iwa anak PAK RUSDY…dimanakah dia sekarang


   aguswahyudi on 21 Januari, 2010 at 16:50 #

masih di Surabaya bapak, alamatnya ada di tulisan saya


   rosyid on 12 Februari, 2010 at 20:15 #

@Dhimas: sekarang Iwa lagi kuliah di STAN.
sekelas sama saya…udah smester 5…


   wahyu on 23 Maret, 2010 at 17:39 #

semoga beliau cepat sembuh…….. Amin

Salam

Wahyu


   Sugeng Barkah on 31 Juli, 2010 at 08:40 #

Cak Agus Wahyudi….saya baru dengar Cak Rusdy Bahalwan gerah dari TV One yg sdg ekspose pemain nasional naturalisasi pd pagi tadi (31 Juli 2010). Saya langsung googling dan ketemu blognya Cak Agus.
Sampaikan salam saya selaku penggemarnya saat beliau sebagai pemain Persebaya di era 80an….
Semoga beliau diberikan kesehatan oleh Allah SWT. Amien YRA.


   aguswahyudi on 31 Juli, 2010 at 19:48 #

Baik mas Sugeng. Klo ketemu nanti saya salamkan. Bung Rusdi memang sangat fenomenal. Namun di ujung hidupnya ia mengalami cobaan pahit.


   ferdi on 7 Agustus, 2010 at 00:23 #

Mas, saya kesusahan mencari foto-foto beliau di Internet, yang ada hanya satu, yaitu foto yang ada di artikel anda ini. Jika tidak keberatan, mohon kiranya bisa meminta foto-foto Pak Rusdy dari masa muda sampai masa keemasan beliau menjadi pelatih.
Matur suwun sanget mas…


   aguswahyudi on 7 Agustus, 2010 at 19:03 #

kebetulan fotonya juga dikasih mas


   RUSDI YANTO on 23 Januari, 2011 at 11:31 #

Aku sangat kagum sma beliau blh donk mas sya minta foto bung rusdy bahalwan. n do’aku smoga bung rusdi bahalwan cpat sembuh dari penyakitny amiiin ya robbal alamiin…

“RUSDI BAHALWAN IS THE BEST”


   aguswahyudi on 25 Januari, 2011 at 18:04 #

saya gak punya banyak mas. Lebih baik sambangi beliau klo punya waktu


   Ipung on 11 Februari, 2011 at 09:36 #

Wah saya kaget membaca berita ini krn saya sempat dekat dengan keluarga pak Rusdy, Irfan putra sulungnya pd tahun 1997 saya ikutkan Cover Boy majalah Aneka dan lolos sampai Final, sebelumnya saya ikutkan lomba foto model dan Jadi Juara di Malang…Semoga beliau tetap diberi kesabaran, kekuatan dan semoga segera sembuh dan bisa melihat langsung Persepak bolaan di Tanah air ini yg mulai terkoyak…


   aguswahyudi on 12 Februari, 2011 at 17:51 #

benar, mas. saya juga mendoakan beliau diberi ketabahan. Sang istri bilang jika masalah psikis lebih besar memengaruhi kesehatan bung rusdy.


   Inko on 19 April, 2011 at 20:53 #

Yth mas Agus, prknlkn saya mhsiswa Desain Komunikasi Visual ITS. Setelah membaca tulisan anda saya tertarik utk membukukan kisah hidup Pak Rusdy, sebagai tema Tugas Akhir yg saya ambil.
Sya sdh mencoba mencari no tlpn rumah Pak Rusdy dari alamat y disebutkan d atas tapi kata ptugas Telkom (108) alamat di atas kok masih belum terdaftar?
Mungkin mas bisa sedikit memberikan bantuan informasi kpd saya.

Trm ksih atas perhatianny mas, utk balasannya bisa dikirim k email saya.


   aguswahyudi on 19 April, 2011 at 21:08 #

silakan, mas/mbak. semoga bermanfaat.


   akhmadmukrofin on 8 Agustus, 2011 at 02:35 #

semoga terus berkarya,membela tanah airku indonesia

pemerintah jgn lupa penghargaan juga perlu yang penting lagi berikanlah apa yang beliau perlukannya dimasa tuannya

salam kenal mas


   R2G on 8 Agustus, 2011 at 07:42 #

walau saya gak lagi menyimak sepakbola lokal apalagi luar negeri, saya ingat betul sosok pelatih religius yang satu ini. Semoga beliau diberi kesabaran dalam menghadapi cobaan yang ia alami


   joksip on 8 Agustus, 2011 at 08:29 #

Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun
http://www.detiksport.com/sepakbola/read/2011/08/08/003522/1698480/76/rusdy-bahalwan-meninggal-dunia?991101mainnews
Semoga amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT….


   toni on 8 Agustus, 2011 at 08:35 #

saya mencintai Pak Rusdi Bahalwan karena Allah SWT, jauh sebelum saya mengenal Islam dan Partai Keadilan[tempat pertama kali berkiprah di politik],… karena kita sama2 Muslim Surabaya…


   blogdokter on 8 Agustus, 2011 at 11:28 #

Innalillahi wa Inna Ilaihi Rojiun..Turut berduka cita atas meninggalnya salah satu maestro Sepak Bola Indonesia yang dikenal religius dan santun..Saya murid dari Istri beliau di FK Unair, semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketebahan dan amal ibadah Pak Rusdy Bahalwan diterima oleh Allah SWT. Amiin..


   Hasbi on 8 Agustus, 2011 at 16:54 #

nice artikel mas, izin share heehe


   aguswahyudi on 8 Agustus, 2011 at 17:24 #

silakan mas


   fredy arianto on 9 Agustus, 2011 at 00:27 #

Innalillahi wa Inna Ilaihi Rojiun..Atas nama pribadi dan seluruh pengurus, pelatih, siswa dan wali murid Putera Nusantara Soccer School, Senayan, Jakarta, mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya Abah Rusdy Bahalwan. Semoga segala amal ibadah beliau diterima di sisi Allah SWT dan diampuni segala dosa-dosanya. Untuk keluarga yang ditinggalkan, semoga diberi kesabaran dan ketabahan, untuk melanjutkan perjuangan beliau. Amin YRA


   VickieMcgowan27 on 26 Agustus, 2011 at 12:48 #

Success suppose to be masked inside of us. The best writers accomplish custom academic papers of extra high quality! Thus, do not worry and buy an essay.


Post a Comment
Name:
Email:
Website:
Comments: